First Boy

Gadis kecil yang baru saja berumur 3 tahun itu menangis keras melihat Hari, papanya berangkat kerja, ia ingin ikut menemani Hari bekerja.

“Sudah, jangan nangis terus cantik… Nanti air matanya habis loh…” ujar Santi, mamanya. Namun seakan tak mendengar perkataan Santi, gadis kecil itu terus saja menangis.

Seorang laki-laki berumur 35 tahun lewat di depan rumah gadis kecil itu, ia berhenti dan mendekati gadis kecil itu, “Naya kenapa nangis, sayang?” tanyanya pada Naya, nama gadis kecil yang menangis karena ditinggal papanya bekerja.

Sambil menggendong Naya, Santi menjawab pertanyaan itu, “Ini, Om. Naya mau nemenin papa kerja, tapi papa nggak ngijinin Naya ikut…”

“Sini sama om yuk? Jalan-jalan sama om, biar nggak nangis lagi.” ujar laki-laki yang dipanggil “om” tersebut.

“Loh, Dek Sara nggak nangis tuh, masa Naya nggak malu sama adiknya?” lanjutnya saat melihat Sara, adik dari Naya yang terdiam tenang di atas kereta dorong.

Santi memberikan Naya ke laki-laki itu, “nah, Naya sama Om Brian ya… Tuh mau diajak Om Brian jalan-jalan.”

Brian, nama laki-laki yang dipanggil “om” itu menggendong Naya. “Hahaha, selalu kayak gini.” ujarnya saat Naya meletakkan wajahnya di ketiak Brian.

“Naya suka banget ngumpet di ketiak Om Brian sih? Bau tau ketiaknyaaa.” protes Santi, mama Naya.Brian lalu mengajak Naya berjalan-jalan, dengan posisi wajah Naya tetap menempel pada ketiak Brian. “Naya, padahal om sendiri nggak suka sama bau ketiak om, kok Naya kayaknya cinta banget ya? Sampai-sampai setiap sama om, Naya selalu ngumpet di ketiak om. Geli, Nay… Hahaha…” ujar Brian.

Dalam dekapan Brian, Naya terdiam. Meskipun bagi sebagian orang hal yang dilakukan Naya merupakan hal yang aneh dan sedikit menjijikkan, menempelkan wajah di ketiak seorang laki-laki berumur 35 tahun yang baunya entah bagaimana rupanya. Namun tidak bagi Naya, gadis kecil yang baru berumur 3 tahun itu sangat menikmati saat melakukan hal yang dianggap aneh dan menjijikkan bagi sebagian orang. Bagaimana lagi? Naya masih kecil dan dia tak mengerti apa itu ketiak dan bau tak sedap yang ditimbulkan oleh ketiak itu sendiri.

“Om…Nay lapel…” rengek Naya kepada Brian. Gadis kecil berumur 3 tahun itu mulai merasakan bahwa perutnya sudah ingin diisi dengan makanan bergizi yang dapat membantu tumbuh kembangnya.

Brian mengangkat kepala Naya dari ketiaknya, “Naya habis cium-cium ketiak om, sekarang lapar ya? Pulang yuk? Naya makan di rumah ya sama mama?” usul Brian. Naya hanya mengangguk setuju.

Brian mengantar Naya pulang ke rumah, “Naya lapar, mbak.” katanya pada Santi.

Santi mengambil alih Naya, dia mencium pipi Naya, “uhh, Nayanya bau ketiaknya Om Brian. Naya harus mandi biar wangi.” candanya sambil menatap wajah mungil Naya, “biar dedeknya nggak ketularan bau ya, Naya?” kata Santi sambil tertawa. “Om Brian nggak pernah pakai minyak wangi, baunya nggak enak banget ya, Naya?” ujar Santi lagi dengan tertawa.

“Yang penting Naya suka sama bau ketiak om, om udah senang kok, Nay. Hahaha…” kata Brian sambil mengusap rambut Naya.

***

“Assalamualaikum…”

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.35 WIB, terdengar suara pintu diketuk disertai salam seorang laki-laki dewasa. Tanpa diberitahu pun, Naya tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah Hari, papanya. Gadis kecil itu langsung berlari kearah pintu dengan semangat.

“Nayaaa, hati-hati sayang .” ujar Santi mengingatkan saat melihat Naya tergesa-gesa membuka pintu.

Seakan tak mendengar peringatan Santi, Naya membuka tanpa memperhatikan kakinya yang berdiri di dekat ujung pintu, dan…

“AAAAA… Akittttt…” Naya menjerit kesakitan karena ibu jari kakinya terjepit pintu saat gadis kecil itu membuka pintunya dengan semangat. Tangis pun tak dapat dihindari lagi, Santi kaget saat melihat darah bercucuran dari ibu jari kaki gadis kecilnya. Santi langsung menggendong Naya dan membawanya masuk ke rumah. Hari, ikut kaget, mereka berdua tampak khawatir dan merasa menyesal, kasihan pada gadis kecilnya yang menangis kesakitan.

“Ini, Ma. Kapas, obat merah sama alcohol buat bersihkan luka Naya.” kata Hari, laki-laki itu memberikan obat P3K pada istrinya, dan dengan cekatan, Santi mengobati luka Naya.

Hari kembali dari belakang sambil membawa sepeda mini beroda empat, “padahal papa baru aja belikan sepeda buat Naya, kok kakinya Naya sakit. Apa dikembalikan aja ya sepedanya?” katanya.

Mata Naya langsung melebar, raut wajahnya yang tadi menampakkan kesedihan langsung berubah begitu mendengar perkataan papanya, “ahhh, Nay mau cepedaaaa.” rengeknya. Kali ini rengekan tersebut keluar bukan karena kesakitan, namun lebih karena Hari yang berkata akan mengembalikan sepeda baru itu.

Santi tertawa, “haha, denger sepeda baru aja langsung hilang nangisnya. Kalau kakinya Naya besok sudah sembuh, Naya boleh main sepeda. Besok kan hari Minggu, jadi papa libur.” jelas Santi.

“Nay mau cekalanggg…” rengek Naya.

Santi dan Hari hanya menggeleng sambil tersenyum. Naya cemberut.

“Nah, kalau tadi Mbak Naya dapat sepeda, ini Dek Sara juga dapat hadiah dong dari Papa.” kata Hari, ia mengeluarkan kantung plastic putih dari tasnya. “Sepatu baru buat Dek Saraaa….” Hari memakaikan sepatu baru itu pada kedua kaki mungil Sara, adik Naya yang baru berumur 10 bulan. Sara tertawa-tawa senang.

“Wah, terima kasih, Papa. Naya sama Sara sudah dikasih hadiah bagus sama Papa.” kata Santi mengajari kedua anaknya untuk mengucapkan terima kasih.

***

Hari sudah berganti. Naya dan Sara sudah tersadar dari tidurnya, mereka berdua sudah mandi, wangi dan cantik. Bersiap untuk berjalan-jalan di sekitar komplek, kegiatan rutin yang selalu dilakukan Hari dan keluarganya setiap hari Minggu.

“Pa…. Cepeda…” rengek Naya. Gadis kecil itu menunjuk sepeda dengan warna biru dan putih yang semalam baru dibelikan papanya.

Hari mengernyit, “kaki Naya sudah nggak sakit lagi?” tanyanya.

Naya menggeleng. “Cepeda…” rengeknya.

Suami Santi itu langsung mengambil sepeda baru milik Naya keluar rumah dan menaikkan Naya di atas sadelnya. “Naya pegang kemudinya ya, sayang… Papa ajarin Naya naik sepeda.” kata Hari. Naya hanya mengangguk. Gadis kecil itu merasa sangat senang.

“Ngeng…ngeng…ngeng….” katanya saat sepeda mulai melaju pelan, bukan karena dikayuh oleh Naya sendiri, melainkan karena didorong Hari.

“Sayang, kakinya ditaruh di atas pedal dong… Kakinya digerakkan kayak gini biar sepedanya bisa jalan.” jelas Santi sambil meletakkan kaki gadis kecilnya di atas pedal sepeda.

Naya mencoba mengayuh sepeda baru itu dengan kedua kaki kecilnya, “Pa…kok nggak bica jalann cepedanyaaa.” rengek Naya saat ia sepedanya tak berhasil jalan.

Hari tersenyum dan mengusap rambut putri kecilnya lembut, “ya namanya belajar, kan nggak langsung bisa, sayang. Dicoba lagi ya.” katanya. Dengan sabar Hari mengajari gadis kecilnya mengayuh sepeda sampai Naya lancar.

Setelah belajar mengayuh sepeda selama lebih kurang 1 jam, akhirnya Naya berhasil mengayuh sepedanya dengan lancar. Keberhasilan itu membuat Naya tidak ingin berhenti untuk mengayuh sepeda, gadis kecil itu sangat bersemangat untuk mengayuh pedalnya agar sepeda baru beroda empatnya itu bisa meluncur dengan cepat. Dengan semangat yang membara, Hari ikut menemani Naya bersepeda, meskipun kakinya sudah lelah untuk mengikuti Naya dari belakang karena pria itu khawatir jika gadis kecilnya jatuh dari speda.
Setelah sedikit dipaksa, akhirnya Naya mau untuk berhenti bersepeda dan kembali ke rumah. Setelah mandi, Naya sudah tertidur pulas di atas tempat tidur, padahal gadis kecil itu belum memakai pakaian lengkap.

“Pa… Lihat deh, putri kecilnya Papa kecapekan. Belum pakai baju sudah tidur di tempat tidur.” kata Santi sambil membenarkan letak tidur anaknya dan memakaikan Naya baju agar dia semakin nyaman.

Namun tak lama setelah itu, terdengar suara tangisan milik Naya. Hari dan Santi yang mendengar langsung menuju kamar tidur putrid kecil pertama mereka, khawatir apabila terjadi sesuatu yang buruk pada Naya.

“Pa, Naya kenapa nangis ya?”

Hari menggeleng pelan, “mungkin dia kecapekan, Ma. Seharian main sepeda terus. Tadi sih capeknya nggak kerasa, tapi kalau sudah berhenti gini ya kerasa kan.” ujarnya.

“Tolong ambilin minyak kayu putih, Pa. Biar Mama pijitin kakinya.” pinta Santi. Hari dengan cekatan langsung mengambilkan minyak yang diminta istrinya.

Santi dan Hari bergantian memijat kaki Naya.

Keesokan harinya Hari kembali berangkat bekerja seperti minggu sebelumnya. Naya bangun dari tidur nyenyaknya 10 menit setelah Hari berangkat.

“Ma… Nay mau cepeda agiii…” teriak Naya. Santi langsung ke kamar putrid kecil pertamanya dan langsung menggendong tubuh kecil Naya.

“Duh… Anak Mama ya, semalam nangis kecapekan, sekarang mau main sepeda lagi.” kata Santi sambil mencubit gemas pipi Naya.

“Aaaa… Nay mau cepeda, Mamaaa…” rengeknya. Gadis kecil itu khawatir Santi tak mengijinkan dia untuk bermain sepeda lagi.

“Iya iya sayang. Hahaha, mandi dulu, pakai baju yang cantik, makan yang cukup biar kuat. Baru Naya boleh main sepeda lagi ya.”

Naya yang dinasehati hanya mengangguk setuju.

***

Waktu sudah berjalan 5 hari sejak Naya dibelikan sepeda mini dengan roda empat yang baru dan selalu bersemangat untuk bersepeda setiap harinya.

“Pa, pulang sekarang yaaa… Naya badannya panas, sudah aku kasih obat tapi pansanya nggak mau hilang. Nggak mau makan juga.” Santi berbicara pada Hari lewat telepon genggam. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.40 WIB. Hari menyanggupi untuk pulang cepat.

Karena tak kunjung sembuh setelah Naya minum obat, suami-istri itu memutuskan untuk membawa Naya ke RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) untuk diperiksa lebih lanjut, ternyata Naya menderita gejala penyakit tifus. Dengan segala pertimbangan, akhirnya Naya menjalani rawat inap di RSUD yang terletak di kawasan Kota Pahlawan tersebut.

Gadis kecil itu dirawat inap dalam kamar berukuran standar yang berisi dua orang. Beruntungnya Naya karena pasien di sebelah tempat tidurnya juga seorang anak laki-laki yang berumur 4 tahun, beda 1 tahun di atas Naya.

“Adek namanya siapa?” ibu dari anak laki-laki bertanya.

Naya hanya terdiam, dia melihat mamanya dan paham dari senyuman Santi bahwa ia harus menjawab pertanyaan ibu-ibu itu. “Naya…” Ujar Naya pelan.

“Oh Naya ya namanya? Cantik, seperti orangnya.” ibu tersebut tersenyum, “ini namanya Ardi. Salam kenal, ya, Naya.” ujarnya.

Naya hanya mengangguk malu.

Keesokan harinya, Hari datang menggantikan Santi yang sudah berjaga semalaman. Sara, adik perempuan Naya yang masih berumur 10 bulan dititipkan di rumah Brian.

“Ini sayang, Papa bawakan kamu majalah kesukaanmu biar nggak bosen.” kata Hari sambil memberikan sebuah majalah edisi terbaru.

Naya menerima majalah itu, ia melihat isi-isi majalah dengan senang dan semangat.

“Pa, belbinya lucu.” kata Naya seraya mengusap-usap gambar boneka Barbie yang terdapat di majalah.

Ucapan Naya memang belum begitu jelas, sehingga kalimat-kalimat yang dia ucapkan terdengar lucu.

Hari mengangguk setuju, “bonekanya cantik ya? Seperti Naya.” ujarnya sambil mengusap rambut Naya.

“Pa…Mau ke cini…”

“Pa… Nay mau ini…”

“Pa… plincess cantik.”

“Pa… cama cepelti cepeda Nay ya…” Naya berkata terus menerus dengan semangat, memberikan komentar-komentar lucu terhadap apa yang dilihatnya di majalah. Ucapan-ucapan lucu dari mulut putrid kecilnya membuat Hari senang, karena Hari sempat khawatir dan takut Naya akan merasa sedih dan menangis karena tidak tidur di rumahnya sendiri, tak bisa bertemu adiknya, Sara, untuk sementara waktu dan tak bisa bermain dengan sepedanya.

“Naya apanya yang sakit, sayang?” tanya Hari.

Naya menoleh, memalingkan wajahnya dari majalah dan menggeleng, “ini apa, Pa? kok angan Nay di kacih tali?” tanya Naya balik saat melihat selang yang berisicairan infuse tertancap rapi di punggung tangannya.

“Ini infuse, sayang. Naya kecapekan main sepeda terus, makanya sekarang disuruh istirahat dulu sama dokternya.”

Naya hanya mengangguk mendengar penjelasan singkat papanya, dia tak mengerti perkataan Hari, tapi dia hanya diam dan memilih melihat majalah lagi.

“Pa…cepatunya bagus…” kata Naya pada Hari sambil menunjukkan gambar sepatu yang terdapat di halaman akhir majalah.

“Wah… Iya bagus, Naya mau? Mau yang mana?”

“Ini.” tunjuk Naya.

“Coba lihat dong gambar sepatunya.” Naya menoleh kaget, anak laki-laki di sebelahnya berbicara pada dirinya. Naya mengangguk dan menyerahkan majalahnya.

“Kamu suka sepatu yang mana, Nay?” tanya anak laki-laki itu, Ardi.

Naya menunjuk gambar sepatu pilihannya, “kamu?” tanya Naya.

Ardi mengusap-usap gambar itu cepat, “eh nggak boleh! Ini aku, Nay pilih yang lain aja.”

“Tapi kan tadi Nay pilih duluan.” ujar Naya marah.

“Nay jangan marah dong, aku kan cowok, jadi nggak apa-apa kalau mau milih gambar yang ini. Nay yang ini aja, bagus. Cocok buat Nay.” usul Ardi, anak laki-laki itu berkata dengan semangat.

Nay pura-pura berpikir, gadis kecil itu terdiam, “iya deh, Nay ini.” ucapnya pasrah. Ardi yang mendengar kalimat Naya hanya tertawa.

“Lihat deh, amu mau yang mana?” tanya Naya sambil menunjukkan gambar yang lain di majalah. Mereka berdua terlibat percakapan seru tentang siapa yang boleh memilih gambar duluan dan siapa yang harus menurut dipilihkan gambarnya.

Hari-hari berikutnya, Naya dan Ardi, kedua anak kecil itu saling akrab satu sama lain. Selalu saja ada hal yang mereka perbincangkan setiap waktunya. Setelah 5 hari berlalu, dokter berkata bahwa Naya diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

“Nay mau pulang. Aldi ndak pulang ke lumah?” tanya Naya lugu.

Ardi hanya menggeleng sedih, “yah, aku nggak punya teman lagi deh.”

“Becok Nay ke cini lagi.” ujar Naya , gadis kecil itu melihat wajah orang tuanya meminat persetujuan.

Santi dan Hari mengangguk setuju.

Ardi, anak laki-laki pertama yang dikenal Naya.

— Jadi ini sebenernya adalah cerpen yang dilombain tapi nggak menang. Baiklah, aku kuat, sudah biasa ya ikut lomba tapi nggak menang. Butuh banyak perbaikan, karena aku tahu cerpen ini pasti banya typonya.

Terima kasih sudah membaca 😀

Semarang, The Herritage (2)

Ini sebenernya telat banget ngepos ginian, dan bahasanya banyak yang typo, hehe, sebenernya pingin pake bahasa Indonesia sesuai dengan EYD, tapi kok males wk 😀 maafkan sayaaa :v

Nah jadi setelah sampai di penginapan, kita istirahat sebentar, rencananya sih maunya langsung turun dan jalan-jalan di Semarang, tapi rasa capek lelah dan panas mengalahkan segalanya :’) kami bertiga tergoda untuk menikmati nyamannya kasur bersprei merah muda penginapan (nggak paham lagi, tiba-tiba kok jadi begini bahasanya ya, duh labil wk :D). Akhirnyaaa sorenya kita capcus ke bawah, menggunakan angkutan umum dan terus (bahasanya yaaa) kita bertiga jalan kaki sekitar 1 kilometer. Kita berhenti di depan hotel, foto-foto di situ, terus bapak nanya-nanya, ngobrol, biasa sksd sama tukang becak di situ, terus kita diantar pake becak ke minimarket yang jual tiket kereta api (kalian tahu lah) dan itu jauuuuh banget, apalagi kita bertiga, berat pasti bapaknya ngayuh. Semarang kereen, nggak ada macet, jalanannya lebar, terus kalau lampu merah gitu, ada kayak pengamen yang nari tradisional gitu di depan pengendara yang berhenti.

Nah habis itu kita berhenti di masjid buat sholat magrib, itu kita udah nggak naik becak lagi, soalnya depannya masjid itu udah alun-alun Semarang. Setelah sholat, kita bertiga ke alun-alunnya, foto-foto narsis di sana haha, sampai jam 19.00 malam, kita makan malam di tempat makan deket alun-alun, daerah Simpang Lima, itu bukan restoran, jadi kayak warung-warung tapi punya tempat, dijadiin satu gitu dan nggak dipinggir jalan.

IMG_0854

Ini pas di masjid depan alun-alun

IMG_0902

Simpang Lima~

IMG_0928

ini pas makan, lupa menunya apa aja, yang jelas nama makanannya lucu semua 😀 wk

Nah, kita bertiga bingung kan mau pesen apa, itu nasi goreng sama mie sih, tapi namanya lucu, yang kuingat punyaku itu nama nasi gorengnya ‘nasi goreng nggak karu-karuan’, itu cuma istilahku sih, nama aslinya aku lupa apa haha 😀 setelah makan, tiba-tiba hujan turun mengguyur kota Semarang, kami bertiga terjebak di tempat makan *ceilahhh pas hujan agak reda, kita mutusin balik ke penginapan. Begitu sampai di penginapan, kita langsung teparrrrrr haha 😀

tbc yaaa 😉

Semarang, The Herritage (1)

Akhirnyaa, setelah nulis nulis nulis dari SD, SMP, SMA, dan selalu nyoba buat nulis diluar cerita fiksi, dan essai. Ini pertama kalinya ikut lomba RESENSI BUKU, dan ini nggak resensi buku fiksi seperti yang biasanya kubaca, ini lomba resensi buku “Lupa Endonesa Deui” -nya Sujiwo Tejo yang diadakan oleh FMIPA Unnes.

Lupa endonesa deui

https://widbahakusriedel.wordpress.com/2014/12/26/resensi-buku-lupa-endonesa-deui/ (bisa dibaca dilink ini)

yess, setelah sekian lama nunggu, sebenarnya nggak begitu yakin juga kalau bakal masuk 10 Besar dilomba ini, secara ya, basicku nulis fiksi, bukan ginian, terus ini pertama kalinya dan pas DL hari itu juga aku baru nyelesaiin naskah ini.

Aku ingat banget, Sabtu bulan lalu, 08 November 2014 aku dapet sms dari panitia kalau aku lolos 10 Besar dan harus presentasi di Semarang. Pas itu aku lagi di sekolah, aku langsung jingkrak-jingkrak, ibu, bapak, terus bolo-boloku *ceilah bolo* langsung kukirimi sms forward dari panitian. Whop whoppp, SEMARANGGGG. Karena menang lomba resensi? Semarang? Ini kayak mimpiiii!!!!

Terus seminggu itu aku nggak sabar banget buat berangkat, semua kusiapin, dari nyiapin power point, latihan presentasi di depan teman-teman sekelasku, dan temen-temenku dukung aku banget.

Ini pas aku kasih tau kalau aku dapet sms dari panitia, respon mereka :

“Do’a anak sholeh ya, hak. 10 Besar Alhamdulillah.”

“Alhamdulillah, selamat ya beh ({})”

“Cie bahakk, kamu presentasi di Semarang berarti? Ikut hakkk.”

“Selamat Widbaha :D”

“10 besar hak? Alhamdulillah, gak sia-sia kamu lembur di kelas hak.” haha, iya lembur di kelas dan nggak bisa diganggu gugat buat nyelesaiin ini.

Oh iyaa, makasih juga sih buat Ainun sama Via yang udah bantu ngedit naskahku, haaa, IPA2 emang the best kok :3

“Semarang? Jangan lupa oleh-oleh hakkk.”

“Positive thinking dapet juara ya hakk.”

Tiap hari ngecekin email mungkin aja ada pemberitahuan dari panitia haha 😀 saking excitednyaaaa. Acara itu dilaksanakan 2 hari, aku dianter sama bapak sama dek kisti (alasan anak ini ikut adalah “bapak nemenin mbak widi, aku nemenin bapak, kasian nanti bapak nggak ada yang nemenin –)

Berangkat hari Jumat, 14 November 2014 naik kereta, kita bertiga sampai di stasiun Semarang jam 21.00 -an terus dijemput sama panitianya dan diantar ke penginapan gitu, dan pas di kamar, mau ke kamar mandi, kita bertiga baru sadar, NGGAK BAWA PASTA GIGI, horeeee, akhirnya bapak keluar dan minta tolong penjual warung buat beli pasta gigi karena banyak warung udah tutup, apalagi universitas sama penginapannya tempatnya naik-naik ke atas gitu–

Sabtu, 15 November 2014

Pagi-pagi banget kita bertiga udah siap siaga berangkat, katanya jadwal jam 07.00 itu udah mulai dan kita dijemput panitia, panitia baik banget deh :3 nunggu lamaaa, dan foto-foto nggak lupa lah yaaa 😀 Nyampe di Unnes, aku langsung disuruh ambil undian gitu buat nentuin urutan maju, dan aku dapet simbol “SEGITIGA” ini maksudnya apa? Aku dapet urutan nomer 3 gitu? Nggak paham–

IMG_0776

ini pas di Puri Graha Wiyata nunggu panitia jemput

Setelah acara pembukaan, peserta yang belum presentasi disuruh ninggalin ruangan, aku nggak tau ini kenapa, mungkin biar yang belum presentasi nggak niru cara peserta yang sebelumnya kali ya. Aku liat saingannya berat-berat, mahasiswa semua :’) yang anak SMA cuma aku sama anak cowok dari Aceh. Jauhnyooo ~ Semua peserta pada lathan, padahal mereka udah mahasiswa kan ya :’) aku langsung sms ibu sama bolo-bolo di Sidoarjo, bilang saingannya berattt, terus mereka semangatin aku. Terharu :’) wk alay.terus nggak lama aku dipanggil, entah aku nomer urut berapa aku lupa, nggak peduli juga sih. Gilaaaa groginya setengah hiduppp!!! Untung aja aku presentasi kurang dari 10 menit. Terus kan ditanyain sama juri, aku nggak bisa jawab pertanyaannya :’) aku ditanyain siapa itu “ibrahimovic” lah kujawab mungkin itu nama samaran, ternyata itu nama pemain bola :’) terus masa ditanya apa kegunaan power point, pertanyaannya out of the box banget ;”) meskipun gitu aku lega sih karena akhirnya udah selesai presentasi

IMG_0829

ini tulisan selamat datangnya, difoto pas mau pulang soalnya baru sadar ada tulisan ini haha 😀

IMG_0790

pas lagi pose jelek kok ya difoto wk 😀

terus setelah itu kan peserta selanjutanya yang tampil, jujur, mahasiswa itu keren-keren, langsung minder pesimis dan nggak yakin bakal 3 besar, apalagi pas presentasi aku salah-salah dan ada hal penting yang nggak kuucapin. Selesai acara jam 12, aku sama adek -bapakku makan dikayak semacam taman gitu, terus lihat depannya kan, luaaasss banget!! Rencananya sih mau muteri kampus, tapi batal karena udah capek wk dan akhirnya kita memutuskan untuk balik ke penginapan dengan menggunakan angkutan umum.

IMG_0837

narsis dikit lah yaaa :p

kok capek ngetik ya? saking excited buat share pengalaman baru yang telat banget ngeposnyaaa 😀

tbc dehhh 😉

Resensi Buku “Lupa Endonesa Deui”

Lupa endonesa deui

 AKSI NYATA SANG DALANG
Oleh : Widbaha Kusriedel Niar

Judul Buku : Lupa Endonesa Deui
Penulis : Sujiwo Tejo
Penerbit : Bentang
Tempat Terbit : Yogyakarta
Tebal Buku : xvii + 342 hlm.
ISBN : 978-602-7888-96-8

Sujiwo Tejo, merupakan seniman, seorang dalang yang selalu mengungkapkan isi hati dan pemikirannya melalui karya-karya yang hebat berupa musik, tulisan dan lukisan, bahkan tak sedikit pula yang menyebut Sujiwo adalah seorang budayawan. Sujiwo Tejo telah menerbitkan 9 buku non-fiksi selain buku “Lupa Endonesa Deui”, juga pernah menyutradarai berbagai film dokumenter dan menjadi aktor dalam banyak film besar. Sujiwo Tejo, seniman yang sangat berani dalam mengungkapkan apa yang ia rasakan tentang bangsa Indonesia ke dalam berbagai bentuk karya seni, tidak hanya sekedar ngerasani di belakang dan hanya ngomong doang, tetapi berani mengajak warga Indonesia untuk ikut membicarakan bangsa Indonesia bersamanya.

Pertama kali membaca judul buku ini, yang ada dibenak saya adalah bahwa buku ini membahas tentang masyarakat Indonesia yang sudah melupakan negaranya. Mereka melupakan negara Indonesia dan beralih mengikuti budaya barat yang terkesan glamour, padahal sesungguhnya tidak seperti itu.

Buku “Lupa Endonesa Deui” membuat kita sadar bahwa sebenarnya negara ini mempunyai banyak sekali kekurangan yang disebabkan oleh warganya sendiri. Setiap cerita yang Sujiwo tuliskan sangat tepat dan tidak meleset misalnya, sindiran tentang kurikulum bangsa Indonesia dalam sub-bab “Sengkuni Benar Soal Kurikulum”. Sujiwo benar, bahwa murid SD tidak seharusnya diberi begitu banyak pelajaran yang mengakibatkan waktu bermain mereka berkurang. Penjurusan antara IPA/IPS di SMA membuat siswa dipaksa untuk belajar dan menyenangi pelajaran yang sebenarnya bukanlah kemampuannya, seperti kata Petruk di akhir sub-bab bahwa, “kurikulum harus disesuaikan juga dengan bakat dan kemampuan siswa. Jangan tanam padi di tegal. Jangan tanam jagung di sawah.”

Masih tentang pendidikan pula, UN selalu menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian siswa di Indonesia dan hal itu tak luput dari sindiran halus namun nyelekit dan nyeleneh dari Sujiwo Tejo. Pada sub-bab “Elegi Bunga Bangkai”, Jiwo mengungkapkan bahwa saat pelaksanaan UN banyak sekali halangan yang terjadi, seperti soal UN yang datang terlambat, tidak kebagian soal UN, soal UN yang tertukar antara IPA/IPS dan masih banyak lagi. Meskipun sebenarnya ada sedikit salah ketik pada kalimat “Hah, apa iya?” Cangik kaget alang kepalang. Ia bangkit dari sandarannya ke tubuh Cangik. Panggilan “ia” dikalimat itu adalah kata ganti dari nama Cangik, sehingga apabila dibenarkan akan menjadi “Hah, apa iya?” Cangik kaget alang kepalang. Cangik bangkit dari sandarannya ke tubuh Cangik, kalimat ini tidak masuk akal. Namun, apa yang diutarakan Sujiwo dalam sub-bab ini memang benar adanya.

Tema lain yang juga tak kalah menarik dalam buku ini dibahas dalam judul sub-bab “Butir-Butir Pasir di Laut Nglindur”. Judul ini menceritakan tentang Dewi Sinta yang sadar bahwa anaknya, Ibrahimovic adalah orang yang sama dengan suaminya sekarang yaitu Prabu Watu Gunung. Ibrahimovic pernah ia usir sepanjang masa setelah sebelumnya dipukul kepalanya dengan centong nasi karena selalu bermain bola dan tidak pernah mengaji. Cerita yang hampir sama dengan cerita rakyat Gunung Tangkuban Perahu. Dewi Sinta ingin menceraikan suaminya, caranya ia berkata bahwa ingin dimadu dengan Dewi Android. Suaminya pun berperang melawan para Batara yang ingin mendapatkan Dewi Android, sampai akhirnya ia tewas di tangan Dewa Wisnu, hanya karena kalah dalam permainan cangkriman. Cangkriman yang ditanyakan Prabu Watu Gunung dalam judul ini dijawab dengan benar oleh Dewa Wisnu. Dijalankan, tetapi tidak dijalankan. Jawabannya adalah dijadikan jalan atau dijadikan nama jalan tetapi dihitamkan, yaitu PAHLAWAN. Nama mereka dijadikan nama jalan namun semangat dan cita-citanya tak dilaksanakan.

Meskipun ada sedikit salah ketik dibeberapa judul sub-bab, namun keseluruhan cerita yang dituliskan oleh Sujiwo Tejo dalam buku ini sangatlah menarik, berani dan apa-adanya. Pengalaman Sujiwo Tejo dalam berkarya sudah tidak dapat diragukan lagi, seperti yang sudah ditulis di atas. Itu semua dibuktikan dengan buku-buku yang telah ia terbitkan, menjadi dalang dalam banyak pergelaran wayang, menjadi sutradara beberapa film dokumenter dan masih banyak lagi. Tema-tema yang digunakan dalam cerita ini adalah hal nyata, benar adanya dan ditulis berdasarkan pengalaman yang memang terjadi di Tanah Air.

Bagi Sujiwo Tejo, menulis merupakan hal wajib yang dilakukan oleh seorang dalang, karena menurutnya untuk menjadi seorang dalang, ia harus menguasai dasar-dasar seni rupa, musik, akting dan sastra.
Buku “Lupa Endonesa Deui” yang ditulis oleh Sujiwo Tejo ini dapat dibaca oleh semua kalangan, meskipun ada beberapa kosakata yang mungkin akan sulit dimengerti secara langsung oleh pembaca yang tidak mengerti banyak tentang cerita Jawa, namun secara keseluruhan, isi yang ada di dalam buku ini benar-benar membuat kita para pembaca terbuka pikirannya tentang Indonesia.

——

Latepos banget ya tapi nggak apa-apa kan, daripada blgnya kosong hehe 😀

Batangson Arae Makki

“Lo ikut turnamen?”

Andi mengangguk penuh semangat, sambil meninju udara, dia menjawab pertanyaan itu dengan yakin, “ikut dong! Ini turnamen yang gue tunggu sejak lamaaa!!”

***
Suara hembusan deru nafas mulai terdengar, sore itu, club taekwondo yang berada di salah satu kota metropolitan Surabaya mulai dipenuhi oleh anggota-anggotanya yang datang untuk berlatih.

“Ha…. Ha…. Hiatttt!!!” andi tersenyum di pintu masuk club, dia selalu menyukai saat-saat dimana semua teman-temannya berlatih dengan serius, semangat yang menggebu-gebu, ambisi untuk membuat orang bangga.

Andi menaruh tas latihannya, laki-laki berumur 17 tahun itu memasang ti pada dobok yang sudah ia kenakan dari rumah. Ia melambaikan tangan pada sabumnya, lalu berpaling pada temannya, “Ga, yuk sama gue, daripada nungguin Reza.” Ajak Andi setengah berteriak.

Aga mengangguk menyetujui, ia berdiri dan berlari menghampiri Andi. Mereka berdua sudah berdiri berhadapan, tatapan mata kedua lelaki itu tajam, mereka melakukan kyoongnyeh terlebih dahulu dan mulai bertaruh. Serangan demi serangan mulai mereka keluarkan, seperti momtong jireugi (pukulan kearah perut) yang diberikan Aga dan langsung ditampis Andi dengan gerakan batangson arae makki yaitu tangkisan kearah bawah menggunakan telapak tangan.

“Lo jadi ikut turnamen yang mana?” Tanya Andi sambil memberi Aga tehnik Noppi ap chagi, yang langsung dihindari oleh Aga.

Aga membalas serangan Andi menggunakan tehnik chiq jireugi yang langsung ditangkis oleh Andi dengan tehnik Batangson momtong Makki, tehnik menangkis serangan dengan telapak tangan kearah perut, “Iya lah, gue ikut Kejurnas di Jakarta. Itu impian gue, lo juga ikut Kejurnas Jakarta kan, Ndi?”

Andi mengangguk, “Iyalah, gue latihan mati-matian buat lomba kali ini, gue pingin buktiin ke bokap kalau latihan gue selama ini nggak sia-sia.”

“Hiaaatttt!!!!” tanpa diduga Andi, Aga menyerangnya dengan tehnik Twio Dwi Cahgi, yaitu tendangan lompat dengan arah berbalik ke belakang, menyodok kearah perut. Karena serangan yang begitu tiba-tiba, dan mereka yang sedang mengobrol, membuat Andi tidak konsentrasi dengan latihannya, ia terjatuh. “Ah, sialan lo. Ngajak ngobrol, gue nggak konsen jadinya.” Umpat Andi sambil berdiri. Aga tertawa dan membantunya berdiri, dua lelaki itu saling member hormat, menyudahi latihan sore itu.

Andi mengusap perutnya yang tadi terkena tendangan Aga, badan Aga yang kekar membuat serangan tadi cukup sakit meskipun laki-laki itu tak cukup kuat menendang perutnya.

Suasana club mulai sepi, anggotanya sudah memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Andi mengganti seragam taekwondonya dengan pakaian biasa, ia melangkah keluar club, setelah sebelumnya member salam pada sabumnya, dengan mengendarai mobil avanza milik Papanya, ia meluncur pulang.

***

“Pulang malam terus, kamu sudah kelas 3, belajar yang bener!” dengan malas, Andi menjawab pertanyaan Papanya, ia bosan ditanya itu melulu oleh beliau yang sudah merawatnya dari kecil, “Taekwondo, Pa. Mau ada Kejurnas di Jakarta.”
Laki-laki tua berusia 50 tahun itu menatap anaknya berang, “Taekwondo lagi, taekwondo lagi! Kejurnas? Berapa kali kamu ikut lomba semacam itu? Puluhan kali, Ndi! Tapi apa, kamu tak pernah menang dan membuat Papa bangga, hanya menjadi juara harapan!!” teriaknya. ia lelah dengan sifat pembangkang Andi, ia ingin Andi menuruti kalimatnya, belajar dengan rajin dan menjadi dokter, impian masa kecilnya.

“Pa, Andi nggak pingin jadi dokter! Papa ngerti dong, Andi udah turutin semua keinginan Papa. Papa mau Andi les tiap Jumat sama Sabtu malam biar Andi nggak keluyuran sama temen-temen, Andi turutin. Papa mau Andi masuk univ yang Papa mau, udah, Andi udah berusaha buat masuk univ itu, tinggal selangkah lagi Andi bakal jadi mahasiswa di sana. Masa segitu Papa belum bisa bangga sama Andi? Biarin Andi tetep taekwondo dan ngikutin kejuaraan taekwondo, Pa.” jelas Andi panjang lebar, remaja SMA yang 2 bulan lagi mengikuti Ujian Nasional itu mengusap wajahnya pelan. Ia mendekati Papanya dan duduk di sampingnya, “Andi yakin, Kejurnas kali ini, Andi bisa bikin Papa bangga, Andi bakal jadi juara, juara 1, buat Papa.” Ucapnya sambil bersandar di bahu Handoko, Papa Andi.

 

Handoko menghela nafas panjang, ia berpikir sejenak, “Buat Papa bangga, Ndi.” Ucapnya pelan. Andi mengangguk, bibirnya membentuk senyuman lebar tanda bahwa ia senang mendengar kalimat pendek Papanya, “pasti, Pa!!” Mereka berdua berpelukan.

***

Hari yang dinantikan tiba, penonton memenuhi area Kejurnas Jakarta dilaksanakan. Suara para pendukung menggema di telinga, membuat peserta semangat untuk menunjukkan kemampuan masing-masing di depan mereka.

Andi mengintip tribun penonton dari pintu masuk ke area bertarung, ia tersenyum melihat Papanya duduk di sana dengan tenang, menyaksikan dirinya berlomba. Ia berjanji pada diri sendiri untuk melakukan yang terbaik dan membuat laki-laki hebat itu bangga karena memilikinya. Ia mendapat urutan kedua untuk bertaruh, sambil menunggu giliran, yang ia lakukan hanya berdoa dan berdoa. Namun, 5 menit sebelum gilirannya maju, ia mendapat telepon dari temannya yang mengabarkan bahwa Papanya sesak nafas. Kekhawatiran memenuhi rongga dadanya, bukan, bukan khawatir karena Papanya tak akan melihatnya bertaruh, tapi khawatir akan kesehatan Papanya.

“Gue gak ikut Kejurnas, gue mau mengundurkan diri aja. Tunggu, di rumah sakit.” Ucapnya tergesa-gesa, nafasnya memburu.

“Jangan mundur, Nak. Papa nggak apa-apa kok. Kamu sudah janji buat Papa bangga, lakukan yang terbaik, bawa kabar gembira untuk Papa. Kesuksesanmu adalah obat bagi Papa.” Ucap Handoko di telepon, Andi mematung. Air matanya mengalir di pipi. Ia mengangguk lalu dengan pasti, remaja itu masuk ke area perlombaan.

Andi sudah berhadapan dengan lawan bertaruhnya, Menicip (Pengawas) memberi aba-aba kedua peserta untuk saling memberi hormat. Peluit ditiup, tanda permainan sudah dimulai. Andi menyerang lawannya dengan emosi yang tinggi, ia emosi karena Papanya masuk Rumah Sakit, ia emosi karena tidak bisa menemani Papanya saat sedang sakit, dan ia emosi karena berambisi untuk membuat laki-laki itu bangga atas dirinya

Serangan demi serangan ia berikan, seperti serangan Chiq Jireugi (Pukulan kearah dagu). Momtong yeoup jireugi (pukulan menyodok dari arah samping kearah perut), yeoup palkop (serangan menyodok menggunakan sikut) dan serangan lainnya.

Tangkisan demi tangkisan Andi gunakan untuk menghindari serangan lawan,]

Waktu tinggal 30 detik, ambisi yang begitu kuat membuat Andi sangat bersemangat untuk mengalahkan lawannya, ia mengambil aba-aba dan “dasssss” kakinya menendang perut lawan, membuat lawannya jatuh. Ia menang dan masuk final.

***

“Ahhhh” lawan Andi berteriak kesakitan saat mendapat serangan darinya. Andi diumumkan sebagai pemenang.

“Papa, aku menepati janjiku. Aku telah membuatmu bangga. Aku menjadi pemenang.” Ucapnya dalam hati sambil mengangkat piala dan menebar senyum lebarnya kearah penonton yang bersorak-sorai atas kemenangannya.

***

Keterangan :

Ti : sabuk

Dobok : Seragam Taekwondo

sabum : pelatih

kyoongnyeh : hormat

***

Diikutkansertakan dalam tantangan menulis yang diadakan oleh @KampusFiksi dengan tema #DeskripsiKeringat

 

Individualisme

Perempuan separuh baya itu melangkah dengan tergesa-gesa dari arah parkiran, ia telat untuk masuk ke kelas pertama. Ya, ini hari pertamanya mengajar disebuah lembaga pendidikan Sekolah Menengah Atas. Langkahnya terhenti seketika saat melewati salah satu ruang kelas, XI MIA2, pikirnya. Kenapa ribut sekali di dalam sana? Seperti ada perang saja, pikirnya lagi. Gerakannya terhenti saat hendak memutar knop pintu, ia teringat bahwa sudah telat mengajar 15 menit.

***

Bel istirahat berbunyi, siswa/siswi bersorak kegirangan dan langsung menutup buku pelajaran yang terbuka di bangku meja mereka. Perempuan itu keluar dari kelas tempat ia mengajar pada hari pertama.

BRAKKK

Perempuan itu terlonjak kaget, lagi-lagi suara itu, tanpa pikir panjang, dia masuk ke kelas XI MIA2.

“Ada apa ini? Kenapa ribut sekali? Sampai terdengar dari luar.” Katanya

Seorang laki-laki dengan postur tinggi tegap maju ke depan, “Ada pertengkaran kecil di kelas. Ibu ini siapa ya? Guru baru?” tanyanya sopan.

Perempuan itu mengangguk, “Ya, saya guru baru. Nama saya Riana. Ada masalah apa?”

“Saya Andi, Bu, ketua kelas. Nadia, Shena, Novi dan Aida bertengkar, Bu.” Jelas Andi sambil menunjuk kearah siswi yang ia sebut.

“Kalian ikut ibu ke kantor sekarang, kita selesaikan di kantor. Agar tidak menganggu teman-teman kalian. Ayo.” Riana mengajak keempat gadis itu. Nadia, berjalan mendahului ketiga temannya. Rambut hitamnya yang dikuncir kuda, bergoyang mengikuti gerakan kakinya. Shena, Novi dan Aida berjalan bersisian, mereka merasa kesal karena masalah seperti ini saja harus diselesaikan di kantor guru, tapi memang teriakan Aida tadi sangat keras, memekakkan telinga.

Riana duduk di atas kursi bundar yang empuk itu, lalu menyuruh keempat muridnya duduk di hadapannya. “Ada apa? Masalah apa yang membuat kalian rebut seperti tadi?” Tanya Riana pelan. Dari sudut matanya, Riana dapat melihat kekesalan gadis yang ia tahu bernama Aida sangat besar. Terlihat dari wajahnya.

“Gini bu, kita kan kemarin dikasih tugas kelompok, nah kita berempat ini jadi satu kelompok. Namanya tugas kelompok, ya pasti dikerjakan secara berkelompok bu, tapi Nadia malah ngerjakan sendiri, waktu presentasi tadi, dia juga lebih banyak ngomong, Bu. Padahal tugas ini saya suka banget, saya yakin bisa jawab pertanyaan teman-teman di kelas, tapi kata Nadia, nggak usah jawab, kalian tinggal berdiri aja di depan sambil bantuin aku dikit-dikit. Enak kan?” jelas Shena. Ia menggerak-gerakkan tangannya saat mengatakan itu.

Riana berpaling kearah Nadia, “Itu benar, Nad?”

Nadia mengangguk, tegas, “Iya, Bu. Sebenarnya saya nggak suka kerja kelompok, Bu. Presentasi gini doing individu kan bisa, Bu, tapi gurunya nggak nerima usul saya buat dikerjakan secara berkelompok.” Jelas Nadia.

“Kenapa?”

“Saya nggak suka, Bu. Kerja individu itu lebih baik, selama bisa dikerjakan sendiri, kenapa harus minta bantuan orang lain?”

“Ya tapi nggak gitu juga caranya, Nad. Iya kamu bisa kerja sendiri, kamu udah terbiasa sendiri, di kelas selalu menyendiri gitu, jarang ngomong lagi. Lah kami? Kami emang bisa sendiri, tapi kan seru kalau dikerjakan secara berkelompok.” Aida angkat bicara, jari telunjuk gadis itu menuding wajah Nadia.

Nadia memukul meja kerja Riana pelan, “Eh, terus kenapa? Masalah buat kamu kalau aku suka menyendiri? Menyendiri bukan berarti aku nggak punya teman ya! Aku emang lebih milih nyendiri daripada ngomongin hal-hal gak penting kayak kalian yang suka gosipin anak-anak sekolah.”

Kata-kata Nadia membuat emosi Novi yang sedari tadi memilih tutup mulut, “Maksudmu obrolan nggak penting? Kita gossip karena kita cewek, kamu nggak pernah gossip sama temen kamu ya? Cewek apa cowok sih? Hahaha.” Serunya mengejek.
Riana menengahi, “Sudah-sudah, setiap orang punya opini sendiri-sendiri. Nadia, meskipun kamu memang lebih suka bekerja sendiri daripada berkelompok, tolong, sekali-kali biasakan diri untuk bekerja secara berkelompok. Tidak mungkin kamu terus-terusan bekerja sendiri, itu mustahil.”

“Iya, Bu, saya tahu itu mustahil, tapi selama saya bisa mengerjakan sendiri, kenapa saya harus mengerjakan secara berkelompok?

Novi menoyor kepala Nadia, “Yak arena gurunya emang minta kita bikin tugas kelompok. Turutin kata guru dong, jangan egois gitu jadi murid.”

Nadia melotot mendapat toyoran dari Novi, “Eh, jangan noyor kepala orang seenaknya dong. Kamu udah ngerasa hebat, bisanya ngerjakan tugas secara berkelompok aja kok belagu sih.”, ia kembali menatap Riana, “Maaf, Bu. Saya akan coba untuk mengerjakan tugas kelompok dan tak mengerjakan semuanya sendiri, tapi saya tak mau satu kelompok lagi dengan anak-anak pemalas ini.”

Aida langsung mendelik ke Nadia, “maksudmu anak-anak pemalas apa?!”

“Sudah-sudah, nanti kalau ada tugas kelompok, saya akan usahakan agar kalian tidak satu kelompok. Sekarang kalian boleh keluar, dan jangan membuat kegaduhan lagi atau saya akan memanggil orang tua masing-masing.” Ancam Riana.

Keempat gadis itu berdiri dan berjalan keluar dari ruang guru, kini, jarak diantara keempatnya makin terasa.

 

 

***

Diikutsertakan dalam #KarakterINTJ yang diadakan oleh #KampusFiksi

Postingan 1 (Puisi)

Miris.
Itu kata yang tepat untukku saat ini.
Betapa tidak, aku mengharapkan dia yang di sana.
Untuk datang menghampiriku.
Padahal aku sadar, bahwa di sana, dia telah ada yang menemani.
Kenapa aku begitu memaksa?
Kenapa ak begitu berambisi?
Cinta memang tak harus memiliki.
Namun, apa salahnya bila aku berusaha?
Meski aku tahu semua usaha yang kulakukan sia-sia.
Setidaknya aku pernah mencoba.