Gadis kecil yang baru saja berumur 3 tahun itu menangis keras melihat Hari, papanya berangkat kerja, ia ingin ikut menemani Hari bekerja.
“Sudah, jangan nangis terus cantik… Nanti air matanya habis loh…” ujar Santi, mamanya. Namun seakan tak mendengar perkataan Santi, gadis kecil itu terus saja menangis.
Seorang laki-laki berumur 35 tahun lewat di depan rumah gadis kecil itu, ia berhenti dan mendekati gadis kecil itu, “Naya kenapa nangis, sayang?” tanyanya pada Naya, nama gadis kecil yang menangis karena ditinggal papanya bekerja.
Sambil menggendong Naya, Santi menjawab pertanyaan itu, “Ini, Om. Naya mau nemenin papa kerja, tapi papa nggak ngijinin Naya ikut…”
“Sini sama om yuk? Jalan-jalan sama om, biar nggak nangis lagi.” ujar laki-laki yang dipanggil “om” tersebut.
“Loh, Dek Sara nggak nangis tuh, masa Naya nggak malu sama adiknya?” lanjutnya saat melihat Sara, adik dari Naya yang terdiam tenang di atas kereta dorong.
Santi memberikan Naya ke laki-laki itu, “nah, Naya sama Om Brian ya… Tuh mau diajak Om Brian jalan-jalan.”
Brian, nama laki-laki yang dipanggil “om” itu menggendong Naya. “Hahaha, selalu kayak gini.” ujarnya saat Naya meletakkan wajahnya di ketiak Brian.
“Naya suka banget ngumpet di ketiak Om Brian sih? Bau tau ketiaknyaaa.” protes Santi, mama Naya.Brian lalu mengajak Naya berjalan-jalan, dengan posisi wajah Naya tetap menempel pada ketiak Brian. “Naya, padahal om sendiri nggak suka sama bau ketiak om, kok Naya kayaknya cinta banget ya? Sampai-sampai setiap sama om, Naya selalu ngumpet di ketiak om. Geli, Nay… Hahaha…” ujar Brian.
Dalam dekapan Brian, Naya terdiam. Meskipun bagi sebagian orang hal yang dilakukan Naya merupakan hal yang aneh dan sedikit menjijikkan, menempelkan wajah di ketiak seorang laki-laki berumur 35 tahun yang baunya entah bagaimana rupanya. Namun tidak bagi Naya, gadis kecil yang baru berumur 3 tahun itu sangat menikmati saat melakukan hal yang dianggap aneh dan menjijikkan bagi sebagian orang. Bagaimana lagi? Naya masih kecil dan dia tak mengerti apa itu ketiak dan bau tak sedap yang ditimbulkan oleh ketiak itu sendiri.
“Om…Nay lapel…” rengek Naya kepada Brian. Gadis kecil berumur 3 tahun itu mulai merasakan bahwa perutnya sudah ingin diisi dengan makanan bergizi yang dapat membantu tumbuh kembangnya.
Brian mengangkat kepala Naya dari ketiaknya, “Naya habis cium-cium ketiak om, sekarang lapar ya? Pulang yuk? Naya makan di rumah ya sama mama?” usul Brian. Naya hanya mengangguk setuju.
Brian mengantar Naya pulang ke rumah, “Naya lapar, mbak.” katanya pada Santi.
Santi mengambil alih Naya, dia mencium pipi Naya, “uhh, Nayanya bau ketiaknya Om Brian. Naya harus mandi biar wangi.” candanya sambil menatap wajah mungil Naya, “biar dedeknya nggak ketularan bau ya, Naya?” kata Santi sambil tertawa. “Om Brian nggak pernah pakai minyak wangi, baunya nggak enak banget ya, Naya?” ujar Santi lagi dengan tertawa.
“Yang penting Naya suka sama bau ketiak om, om udah senang kok, Nay. Hahaha…” kata Brian sambil mengusap rambut Naya.
***
“Assalamualaikum…”
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.35 WIB, terdengar suara pintu diketuk disertai salam seorang laki-laki dewasa. Tanpa diberitahu pun, Naya tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah Hari, papanya. Gadis kecil itu langsung berlari kearah pintu dengan semangat.
“Nayaaa, hati-hati sayang .” ujar Santi mengingatkan saat melihat Naya tergesa-gesa membuka pintu.
Seakan tak mendengar peringatan Santi, Naya membuka tanpa memperhatikan kakinya yang berdiri di dekat ujung pintu, dan…
“AAAAA… Akittttt…” Naya menjerit kesakitan karena ibu jari kakinya terjepit pintu saat gadis kecil itu membuka pintunya dengan semangat. Tangis pun tak dapat dihindari lagi, Santi kaget saat melihat darah bercucuran dari ibu jari kaki gadis kecilnya. Santi langsung menggendong Naya dan membawanya masuk ke rumah. Hari, ikut kaget, mereka berdua tampak khawatir dan merasa menyesal, kasihan pada gadis kecilnya yang menangis kesakitan.
“Ini, Ma. Kapas, obat merah sama alcohol buat bersihkan luka Naya.” kata Hari, laki-laki itu memberikan obat P3K pada istrinya, dan dengan cekatan, Santi mengobati luka Naya.
Hari kembali dari belakang sambil membawa sepeda mini beroda empat, “padahal papa baru aja belikan sepeda buat Naya, kok kakinya Naya sakit. Apa dikembalikan aja ya sepedanya?” katanya.
Mata Naya langsung melebar, raut wajahnya yang tadi menampakkan kesedihan langsung berubah begitu mendengar perkataan papanya, “ahhh, Nay mau cepedaaaa.” rengeknya. Kali ini rengekan tersebut keluar bukan karena kesakitan, namun lebih karena Hari yang berkata akan mengembalikan sepeda baru itu.
Santi tertawa, “haha, denger sepeda baru aja langsung hilang nangisnya. Kalau kakinya Naya besok sudah sembuh, Naya boleh main sepeda. Besok kan hari Minggu, jadi papa libur.” jelas Santi.
“Nay mau cekalanggg…” rengek Naya.
Santi dan Hari hanya menggeleng sambil tersenyum. Naya cemberut.
“Nah, kalau tadi Mbak Naya dapat sepeda, ini Dek Sara juga dapat hadiah dong dari Papa.” kata Hari, ia mengeluarkan kantung plastic putih dari tasnya. “Sepatu baru buat Dek Saraaa….” Hari memakaikan sepatu baru itu pada kedua kaki mungil Sara, adik Naya yang baru berumur 10 bulan. Sara tertawa-tawa senang.
“Wah, terima kasih, Papa. Naya sama Sara sudah dikasih hadiah bagus sama Papa.” kata Santi mengajari kedua anaknya untuk mengucapkan terima kasih.
***
Hari sudah berganti. Naya dan Sara sudah tersadar dari tidurnya, mereka berdua sudah mandi, wangi dan cantik. Bersiap untuk berjalan-jalan di sekitar komplek, kegiatan rutin yang selalu dilakukan Hari dan keluarganya setiap hari Minggu.
“Pa…. Cepeda…” rengek Naya. Gadis kecil itu menunjuk sepeda dengan warna biru dan putih yang semalam baru dibelikan papanya.
Hari mengernyit, “kaki Naya sudah nggak sakit lagi?” tanyanya.
Naya menggeleng. “Cepeda…” rengeknya.
Suami Santi itu langsung mengambil sepeda baru milik Naya keluar rumah dan menaikkan Naya di atas sadelnya. “Naya pegang kemudinya ya, sayang… Papa ajarin Naya naik sepeda.” kata Hari. Naya hanya mengangguk. Gadis kecil itu merasa sangat senang.
“Ngeng…ngeng…ngeng….” katanya saat sepeda mulai melaju pelan, bukan karena dikayuh oleh Naya sendiri, melainkan karena didorong Hari.
“Sayang, kakinya ditaruh di atas pedal dong… Kakinya digerakkan kayak gini biar sepedanya bisa jalan.” jelas Santi sambil meletakkan kaki gadis kecilnya di atas pedal sepeda.
Naya mencoba mengayuh sepeda baru itu dengan kedua kaki kecilnya, “Pa…kok nggak bica jalann cepedanyaaa.” rengek Naya saat ia sepedanya tak berhasil jalan.
Hari tersenyum dan mengusap rambut putri kecilnya lembut, “ya namanya belajar, kan nggak langsung bisa, sayang. Dicoba lagi ya.” katanya. Dengan sabar Hari mengajari gadis kecilnya mengayuh sepeda sampai Naya lancar.
Setelah belajar mengayuh sepeda selama lebih kurang 1 jam, akhirnya Naya berhasil mengayuh sepedanya dengan lancar. Keberhasilan itu membuat Naya tidak ingin berhenti untuk mengayuh sepeda, gadis kecil itu sangat bersemangat untuk mengayuh pedalnya agar sepeda baru beroda empatnya itu bisa meluncur dengan cepat. Dengan semangat yang membara, Hari ikut menemani Naya bersepeda, meskipun kakinya sudah lelah untuk mengikuti Naya dari belakang karena pria itu khawatir jika gadis kecilnya jatuh dari speda.
Setelah sedikit dipaksa, akhirnya Naya mau untuk berhenti bersepeda dan kembali ke rumah. Setelah mandi, Naya sudah tertidur pulas di atas tempat tidur, padahal gadis kecil itu belum memakai pakaian lengkap.
“Pa… Lihat deh, putri kecilnya Papa kecapekan. Belum pakai baju sudah tidur di tempat tidur.” kata Santi sambil membenarkan letak tidur anaknya dan memakaikan Naya baju agar dia semakin nyaman.
Namun tak lama setelah itu, terdengar suara tangisan milik Naya. Hari dan Santi yang mendengar langsung menuju kamar tidur putrid kecil pertama mereka, khawatir apabila terjadi sesuatu yang buruk pada Naya.
“Pa, Naya kenapa nangis ya?”
Hari menggeleng pelan, “mungkin dia kecapekan, Ma. Seharian main sepeda terus. Tadi sih capeknya nggak kerasa, tapi kalau sudah berhenti gini ya kerasa kan.” ujarnya.
“Tolong ambilin minyak kayu putih, Pa. Biar Mama pijitin kakinya.” pinta Santi. Hari dengan cekatan langsung mengambilkan minyak yang diminta istrinya.
Santi dan Hari bergantian memijat kaki Naya.
Keesokan harinya Hari kembali berangkat bekerja seperti minggu sebelumnya. Naya bangun dari tidur nyenyaknya 10 menit setelah Hari berangkat.
“Ma… Nay mau cepeda agiii…” teriak Naya. Santi langsung ke kamar putrid kecil pertamanya dan langsung menggendong tubuh kecil Naya.
“Duh… Anak Mama ya, semalam nangis kecapekan, sekarang mau main sepeda lagi.” kata Santi sambil mencubit gemas pipi Naya.
“Aaaa… Nay mau cepeda, Mamaaa…” rengeknya. Gadis kecil itu khawatir Santi tak mengijinkan dia untuk bermain sepeda lagi.
“Iya iya sayang. Hahaha, mandi dulu, pakai baju yang cantik, makan yang cukup biar kuat. Baru Naya boleh main sepeda lagi ya.”
Naya yang dinasehati hanya mengangguk setuju.
***
Waktu sudah berjalan 5 hari sejak Naya dibelikan sepeda mini dengan roda empat yang baru dan selalu bersemangat untuk bersepeda setiap harinya.
“Pa, pulang sekarang yaaa… Naya badannya panas, sudah aku kasih obat tapi pansanya nggak mau hilang. Nggak mau makan juga.” Santi berbicara pada Hari lewat telepon genggam. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.40 WIB. Hari menyanggupi untuk pulang cepat.
Karena tak kunjung sembuh setelah Naya minum obat, suami-istri itu memutuskan untuk membawa Naya ke RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) untuk diperiksa lebih lanjut, ternyata Naya menderita gejala penyakit tifus. Dengan segala pertimbangan, akhirnya Naya menjalani rawat inap di RSUD yang terletak di kawasan Kota Pahlawan tersebut.
Gadis kecil itu dirawat inap dalam kamar berukuran standar yang berisi dua orang. Beruntungnya Naya karena pasien di sebelah tempat tidurnya juga seorang anak laki-laki yang berumur 4 tahun, beda 1 tahun di atas Naya.
“Adek namanya siapa?” ibu dari anak laki-laki bertanya.
Naya hanya terdiam, dia melihat mamanya dan paham dari senyuman Santi bahwa ia harus menjawab pertanyaan ibu-ibu itu. “Naya…” Ujar Naya pelan.
“Oh Naya ya namanya? Cantik, seperti orangnya.” ibu tersebut tersenyum, “ini namanya Ardi. Salam kenal, ya, Naya.” ujarnya.
Naya hanya mengangguk malu.
Keesokan harinya, Hari datang menggantikan Santi yang sudah berjaga semalaman. Sara, adik perempuan Naya yang masih berumur 10 bulan dititipkan di rumah Brian.
“Ini sayang, Papa bawakan kamu majalah kesukaanmu biar nggak bosen.” kata Hari sambil memberikan sebuah majalah edisi terbaru.
Naya menerima majalah itu, ia melihat isi-isi majalah dengan senang dan semangat.
“Pa, belbinya lucu.” kata Naya seraya mengusap-usap gambar boneka Barbie yang terdapat di majalah.
Ucapan Naya memang belum begitu jelas, sehingga kalimat-kalimat yang dia ucapkan terdengar lucu.
Hari mengangguk setuju, “bonekanya cantik ya? Seperti Naya.” ujarnya sambil mengusap rambut Naya.
“Pa…Mau ke cini…”
“Pa… Nay mau ini…”
“Pa… plincess cantik.”
“Pa… cama cepelti cepeda Nay ya…” Naya berkata terus menerus dengan semangat, memberikan komentar-komentar lucu terhadap apa yang dilihatnya di majalah. Ucapan-ucapan lucu dari mulut putrid kecilnya membuat Hari senang, karena Hari sempat khawatir dan takut Naya akan merasa sedih dan menangis karena tidak tidur di rumahnya sendiri, tak bisa bertemu adiknya, Sara, untuk sementara waktu dan tak bisa bermain dengan sepedanya.
“Naya apanya yang sakit, sayang?” tanya Hari.
Naya menoleh, memalingkan wajahnya dari majalah dan menggeleng, “ini apa, Pa? kok angan Nay di kacih tali?” tanya Naya balik saat melihat selang yang berisicairan infuse tertancap rapi di punggung tangannya.
“Ini infuse, sayang. Naya kecapekan main sepeda terus, makanya sekarang disuruh istirahat dulu sama dokternya.”
Naya hanya mengangguk mendengar penjelasan singkat papanya, dia tak mengerti perkataan Hari, tapi dia hanya diam dan memilih melihat majalah lagi.
“Pa…cepatunya bagus…” kata Naya pada Hari sambil menunjukkan gambar sepatu yang terdapat di halaman akhir majalah.
“Wah… Iya bagus, Naya mau? Mau yang mana?”
“Ini.” tunjuk Naya.
“Coba lihat dong gambar sepatunya.” Naya menoleh kaget, anak laki-laki di sebelahnya berbicara pada dirinya. Naya mengangguk dan menyerahkan majalahnya.
“Kamu suka sepatu yang mana, Nay?” tanya anak laki-laki itu, Ardi.
Naya menunjuk gambar sepatu pilihannya, “kamu?” tanya Naya.
Ardi mengusap-usap gambar itu cepat, “eh nggak boleh! Ini aku, Nay pilih yang lain aja.”
“Tapi kan tadi Nay pilih duluan.” ujar Naya marah.
“Nay jangan marah dong, aku kan cowok, jadi nggak apa-apa kalau mau milih gambar yang ini. Nay yang ini aja, bagus. Cocok buat Nay.” usul Ardi, anak laki-laki itu berkata dengan semangat.
Nay pura-pura berpikir, gadis kecil itu terdiam, “iya deh, Nay ini.” ucapnya pasrah. Ardi yang mendengar kalimat Naya hanya tertawa.
“Lihat deh, amu mau yang mana?” tanya Naya sambil menunjukkan gambar yang lain di majalah. Mereka berdua terlibat percakapan seru tentang siapa yang boleh memilih gambar duluan dan siapa yang harus menurut dipilihkan gambarnya.
Hari-hari berikutnya, Naya dan Ardi, kedua anak kecil itu saling akrab satu sama lain. Selalu saja ada hal yang mereka perbincangkan setiap waktunya. Setelah 5 hari berlalu, dokter berkata bahwa Naya diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
“Nay mau pulang. Aldi ndak pulang ke lumah?” tanya Naya lugu.
Ardi hanya menggeleng sedih, “yah, aku nggak punya teman lagi deh.”
“Becok Nay ke cini lagi.” ujar Naya , gadis kecil itu melihat wajah orang tuanya meminat persetujuan.
Santi dan Hari mengangguk setuju.
Ardi, anak laki-laki pertama yang dikenal Naya.
— Jadi ini sebenernya adalah cerpen yang dilombain tapi nggak menang. Baiklah, aku kuat, sudah biasa ya ikut lomba tapi nggak menang. Butuh banyak perbaikan, karena aku tahu cerpen ini pasti banya typonya.
Terima kasih sudah membaca 😀







